Ajak Peduli dan Cinta Dengan Mangrove, Aan Ingatkan Banjir Besar di Beltim Pada 2017

oleh

BELTIM, BELITONGBETUAH.com-BRGM ( Badan Restorasi Gambut dan Mangrove) resmikan Rumah Literasi Mangrove, di Desa Lenggang, Kec. Gantung, Beltim, pada Minggu (5/6). Rumah tersebut tepatnya berada di MTs Muhammadiyah dan pertama di Indonesia, yang merupakan kerja sama antara Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan BRGM.

Pada acara tersebut, Bupati Belitung Timur, Burhanudin ( Aan) menyampaikan kehadiran Rumah Literasi Mangrove diharapkan bisa memberikan pendidikan dan pembelajaran tentang bagaimana kita mencintai, mengamankan dan memelihara mangrove yang ada di daerah pesisir.

banner sidebar

Hal itu sambungnya karena mangrove memiliki banyak manfaat dan harapan bagi generasi ke depan, sehingga masyarakat harus mulai memahami akan pentingnya mangrove.

Ia terangkan, wilayah pesisir Beltim, banyak ditumbuhi hutan lindung dan hutan produksi melebihi 41 persen. Hampir semua ruang gerak masyarakat pastinya bersentuhan dengan kawasan hutan.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk melakukan pemetaan terhadap kondisi dan situasi mangrove yang ada dan berupaya untuk melakukan perbaikan.

Jelasnya, Pemerintah berkomitmen untuk mencegah terjadinya pengrusakan mangrove sesuai dengan Perpres 120 tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove.

Lebih lanjut Aan katakan, bagi sebagian orang mangrove memang tidak berarti apa-apa. Apa manfaatnya dan mengapa kita diharuskan menanam mangrove. “ Jadi, sekarang kita harus memulainya, sehingga orang tidak lagi membabi buta menghajar mangrove-mangrove di sekitar,” tukasnya.

Lalu ia mengingatkan, tahun 2017, sepanjang sejarah Pulau Belitong, memiliki pengalaman terpahit yang dirasakan oleh Penduduk Beltim. Kala itu, Beltim dilanda banjir besar, dan itu tak pernah terjadi sebelumnya, sehingga bagi masyarakat Beltim, peristiwa banjir tersebut merupakan pengalaman sangat berharga yang harus dipikirkan.

Maka dari itu, ia berkomitmen agar rumah literasi, bisa dipahami oleh semua orang. Jangan sampai setelah rumah literasi di resmikan, ke esokan hari semangatnya hilang.

“Saya tidak mau dalam pepatah Belitung, itu angat-angat taik ayam,” pungkasnya. (Arya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.