Resti dan Nida Bangga Dapat Tugas Membawa Baki Bendera, Meski Sempat Deg-Deg an Juga!

oleh

Tiap tahun selalu menjadi perhatian, siapa anggota Paskibraka yang membawa baki Bendera Merah Putih dalam upacara peringatan Kemerdekaan 17 Agustus. Dari tampilan sudah bisa ditebak, pasti memiliki postur tubuh yang proposional, smart dan inner beauty. Tapi itu saja tak cukup, terpenting harus punya mental yang kuat dan berkarakter. Nah, semua kriteria ini, hanya para pelatih yang mengerti, karena mereka yang mendidiknya. Sederhananya, tidak mudah menjadi pembawa baki bendera merah putih.

Dua remaja putri yang tergabung dalam anggota Paskibraka 2022 Kab. Belitung mendapat kebanggaan menjadi pembawa baki tahun ini adalah Resti Andila, pelajar kelas XI dari SMAN Sijuk bertugas membawa baki pada pengibaran bendera, pagi tadi ( 17/8) dan Nida’ Nafisah pelajar dari MAN Tanjung pandan, pada penurunan bendera.

Ditemui usai penurunan bendera di halaman kantor Bupati yang jadi tempat upacara peringatan 17 Agustus, kedua remaja ini tak mampu menyembunyikan rasa bangganya, saat ditanya bagaimana rasanya terpilih menjadi pembawa baki bendera.

‘’Awalnye, dak nyangke kalau terpilih jadi pembawa baki, ape agik pagi hari. Senang aja, bangga, dapat bertugas. Soalnya kawan-kawan yang lain juga punya skil, mereka juga bisa. Jadi bangga rase e,” ungkap Resti.

Terkait tugas pada hari H-nya, sebab tentu berbeda ketika Latihan. Dengan Cepat Resti menjawab,’’ Sempat deg-deg an tadi. Awalnye seh endak, tapi pas sampai tangga agak deg-deg an, jadi ngatur nafas dulu, ape agik di depan ade bupati. Nah, pas balik tangga, rasa deg-deg mulai hilang,” sebutnya.

Membawa bendera Merah Putih di momen sesakral upacara 17 Agustus, serta ditonton banyak orang, baik Resti maupun Nida meski merasa gugup, tapi mereka cepat tanggap untuk menyesuaikan diri, berusaha setenang dan se-fokus mungkin menjalankan tugasnya. ‘’ Kita baca Bismillah, yakin kita mampu,” kata mereka.

Kemudian, ketika mereka berdua usai bertugas, mereka mengungkapkan rasanya,’’ Alhamdulillah lancar. Lega, bisa lancar dari awal, dari pengibaran sampai penurunan,” ucapnya.

Kedua remaja putri ini juga menceritakan motivasinya ikut Paskibraka. “ Pertame motivasi dari ibu juak, terus aku juak. Terus untuk melatih kedisiplinan,” terang Nida, kemudian motivasi Resti,’’ Kalau aku, keinginan aku sendiri, dari dulu ingin banget jadi Paskibraka, dan sekarang Alhamdulillah tercapai. Bisa melatih diri juga untuk bertanggung jawab, disiplin,” jelasnya.

Tak bisa dipungkiri menjadi paskibraka bisa dikatakan impian seorang remaja yang duduk di sekolah menengah atas, pengalaman ini akan terus mereka bawa kelak. Apalagi mereka dikarantina bersama-sama selama 15 hari, dari latar belakang sekolah yang berbeda. Lalu berkumpul, demi melakukan sebuah misi membanggakan.

“ Jadi pas di karantina, kamek sudah saling kenal dulu, karena memang ade Latihan, terus ade pertemuan sebelum dikarantina. Tapi untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri, terus jalankan tugas bersama itu, dak susah sebab la saling kenal,” jelas mereka, seraya menyebutkan Paskibraka menjadi pengalaman seumur hidup. (Yusnani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *