Buka Festival Pujaya di Eks SMEP, Seberang Galeri UMKM: Isyak Minta Pintu Gerbangnya Tetap Dipertahankan, Itu Keunikkan Lokasi Tersebut

oleh -

Belitung, belitongbetuah.com– Kamis sore (24/11) Festival Pujaya (Pusat Jajan Sriwijaya) di buka Wakil Bupati Belitung, Isyak Meirobie. Acara dari Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Tenaga Kerja Belitung, berlangsung selama 4 hari, dan berakhir Minggu (27/11). Diikuti 55 stand yang terbagi dalam 5 kluster. Cuaca sore tadi yang cerah, seakan mendukung festival tersebut. Setiap stand disana, terisi oleh pengunjung, baik yang makan di tempat maupun untuk dibawa pulang.

Eks SMEP depan galeri itu, parkir depannya memang tak luas, tapi pada bagian samping hingga belakang, bisa menampung ratusan motor. Dalam hal ini, DKUKMPTK seperti disampaikan Syamsudin Kepala Dinasnya, untuk urusan parkir melibatkan masyarakat setempat. Dan, Ia pun berpesan, agar tak memasang tarif. Namun, sepertinya masyarakat Belitung cukup memahami hal tersebut, yang tanpa dimintapun mereka dengan sadar dan tak keberatan mengeluarkan kocek sebesar Rp 2 ribu untuk kendaraan roda dua.

IMG-20240621-WA0024

Dengan sendirinya, kata Syamsudin, diadakannya Festival Pujaya itu selain memberdayakan dan meningkatkan ekonomi pelaku UMKM, juga berimbas bagi masyarakat setempat. Selain itu, kepada petugas parkir, disana ia juga meminta bantuan agar menjaga keamanan.

Selain berada di tengah kota, lokasi tersebut seakan hadir dengan cirinya, yakni pintu gerbang yang dibiarkan tetap berdiri. Secara keseluruhan lokasi itu belum tertata rapi. Masih ditumbuhi rumput-rumput kecil, tekstur tanah pun tak rata. Meski demikian, itu tak menyurutkan minat pengunjung untuk melihat Festival Pujaya, serta tak terlihat kepesimisan para penjual dengan kondisi tersebut.

Terkait keunikan bekas bangunan sekolah itu, Isyak Meirobi dalam sambutannya meminta agar pintu gerbangnya tetap dipertahankan. Ia pun, lalu menceritakan bangunan bersejarah tentang Bukit Saint Paul di Kota Malaka, Malaysia dan Ruins of Saint Paul di Macau. ‘’ Itu bekas gedung tua, rumah ibadah yang terbakar habis, hancur semua. Sisanya, dinding bagian depan. Dua-duanya begitu. Orang hanya datang ke situ, photo dibagian depannya, terus lihat sejarahnya. Tapi yang hidupnya dimana? Area sekelilingnya. Semua toko, di sekeliling itu jual souvenir, jual makanan. Jadi ekonominya berputar,’’ katanya.

Meski eks SMEP tidak termasuk dalam cagar budaya, akan tetapi menurut Isyak kalau lokasi tersebut pada bagian depannya dipertahankan, kemudian dibelakangnya ada pusat jajanan. ‘’ Wah, sudah. Apalagi, nanti dibuat bagus. Wah keren. Membuat orang berani masuk. Hati-hati di Belitung ini, harus kita lihat karaktenya. Makanya, saya wanti-wanti Konsultannya, kaji benar-benar. Itu secara umum, tapi lihat karakter orangnya. Bisnis di Belitung itu ramainya 3 bulan. Biasanya begitu. Semuanya semu. Kalau kita buka warung/ restoran, 3 bulan pertama ramai. Makanya kita harus berinovasi,’’ imbuh Isyak.

Setelah membuka acara, Isyak berkeliling stand. Beberapa stand, ia masuki, bertanya langsung kepada penjual disana. Isyak rupanya pemerhati pelaku UMKM. Ia tahu ada pelaku UMKM baru yang buka stand. “ Tadinya, saya berpikir yang ikut itu-itu aja. Tapi tenyata, 30 persen yang ikut ada yang baru. Senang, melihat ada beberapa inovasi produk, yang tak pernah lihat, tak pernah berpikir dia jual. Jadi, kalau begini terus, akan menambah variasi makanan, dan nantinya ada peluang pasar,’’ ujarnya.

Terkait produk baru yang ia maksudkan, Isyak menyebutkan nama Mie 3 Rasa. ‘’ Dibuat dari sari buah, dari sayur. Kamu lihat warnanya, warna merah dari buah naga. Kemudian, hijaunya dari sayur bayam, dan mie putih, itu jadi satu. Dia juara 2 waktu lomba. Tapi, saya tidak tahu dia jualan. Tahunya dia jualan, harusnya itu ditulis mie juara belitung. Maksud saya itu inovasi. Kan kita suka makan mie, tapi itu mie sehat,’’ bebernya.

Selain itu Isyak juga menyebutkan nama roti celup. Dari sini, ia menilai bahwa pelaku UMKM tersebut pintar, sebab menangkap kebutuhan pasar. “ Banyak orang yang hidup hanya untuk makan biasa. Tapi ada anak muda juga, yang hidup untuk gaya hidup. Nah, life style itu ditangkap sama mereka. Gaya hidupnya begini, butuh variasi, terus ditangkap. Ada respon pasar, mereka kembangkan,” tuturnya.

Isyak pun menyebutkan, bila Festival Pujaya diadakan untuk menstimulus ekonomi menjelang akhir tahun. “ Jadi kita mau bikin, supaya pelaku UMKM bergairah. Inipun masih akan ada kegiatan-kegiatan lagi. Dispar masih ada, Perdagangan masih ada,’’ ungkap Isyak mengenai upaya Pemda guna menstimulus ekonomi mikro melalui beragam event. (Yusnani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *