Jalan Santai Berkebaya Diikuti 83 Regu Peserta : Kadispora Belitung, Junaidi, Tak Menduga Pesertanya Sebanyak Itu

oleh -

Belitung, belitongbetuah.com – Lomba jalan sehat atau lomba jalan santai sebenarnya biasa kita dengar, apalagi lagi kegiatan seperti itu akhir-akhir ini kerap digelar. Tapi bila lomba Jalan Santai Berkebaya, rasa-rasanya baru kali ini diadakan di Belitung. Atasannya menggunakan kebaya, pakai kain, dan sepatu kets, pasti anda akan membayangkan, susah amat jalannya. Tapi enggak tuh! Dalam balutan ragam kebaya modern, mereka justru terlihat lincah dan ceria. Sepertinya tak ada yang merasa sudah lansia, atau sudah punya cucu dan mantu, malahan mereka tak kalah dengan gerakan dari Emak-Emak muda.

Jalan Santai Berkebaya adalah gawai GOW (Gabungan Organisasi Wanita), dilaksanakan Minggu, (11/12). Rutenya mulai dari Gedung Nasional, dan berakhir di Tanjung Pendam, diikuti sebanyak 83 grup, yang tiap grupnya terdiri dari 10 orang. Begitu peserta tiba di tempat finish, mereka melakukan atraksi, dengan menyerukan yel-yel tentang peran wanita dan ibu. Karena memang, Jalan Santai Berkebaya, merupakan rangkaian dari Peringatan Hari Ibu ke-94 dan HUT GOW ke 58. Melihat emak-emak berkebaya dengan ragam warna, melintasi Jalan Merdeka, lewat Bundaran Satam, hingga ke Tanjung Pendam, membuat suasana Minggu pagi Belitung, hadir dengan nuansa yang berbeda.

Emak-emak itu penuh semangat. Junaidi, Kepala Dispora Belitung, yang berada di bangku undangan dan mewakili Bupati Belitung, Sahani Saleh sampai tertular semangatnya. Dari peserta pertama, hingga terakhir, Pak Jun panggilannya, tetap berdiri menyaksikan acara tersebut. Sementara, Kasimin Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Rudi Hartono, Anggota DPRD Provinsi, Funny Meirobie, serta undangan lainnya, duduk. Dua buah tenda besar, berisi ratusan kursi plastik full. Melihat Emak-emak melakukan atraksinya, memang menimbulkan banyak reaksi, rasa kagum, salut dan lucu. Emak-emak, jago juga melawak. Ternyata, kreativitas mereka sungguh luar biasa dan variatif.

Ditemui usai acara, Junaidi mengatakan sangat menyambut baik kegiatan tersebut. “ Artinya, untuk membudayakan masyarakat, khususnya ibu-ibu dengan jalan santai berkebaya. Karena selama ini kebaya itu hanya dipakai pada momen-momen tertentu. Mudah-mudahan, kegiatan para ibu atau wanita ini, selalu ada event yang memanfaatkan baju kebaya, untuk mewariskan kepada anak-anak muda tradisi nasional kita yang belum kita tampilkan,’’ imbuhnya.

Secara keseluruhan, Pak Jun mengagumi semangat ibu-ibu yang tinggi, baik ibu-ibu yang kategori lansia maupun yang muda-muda. ‘’ Inilah kesempatan kita, khususnya kaum muda mengetahui kebaya. Kebaya ini kan la modif, ternyata bisa lebih cantik menggunakan kebaya. Dan, tidak ketinggalan jaman. Macam tadi, dipadukan dengan sepatu kets karena jalannya agak jauh, tetap keren. Walaupun kita tak melihat sepatunya, kita melihat kebaya-nya. Tapi tetap oke. Banyak yang keren-keren,’’ ujar Pak Jun lagi.

Kepada BB, Pak Jun mengaku, dirinya tak menyangka bila pesertanya akan sebanyak ini. ‘’ Ternyata 80 lebeh, kalau dikalikan, hampir seribu orang,’’ ujarnya. Perkiraan Pak Jun, sepertinya tak meleset, sebab peserta 83 grup itu, belum ditambah dengan puluhan panitia dari GOW yang juga memakai kebaya, dan para undangan lainnya. ‘’ Sehingga, dari sekian banyak orang yang menggunakan, berarti sudah memperkenalkan produk kita yang dulu digunakan ibu-ibu. Apalagi, kebayanya juga tak ketinggalan jaman, jadi ibu-ibu sekarang akan sering memakainya, ’’ tambahnya.

Kemudian, ia juga menuturkan dari kegiatan memperingati Hari Ibu ke -94 dan HUT GOW ke-58, peran ibu sangat diharapkan untuk mengisi pembangunan. Sebab, ia menilai peran ibu sekarang tidak serta merta, hanya di dapur. Peran ibu waktu dulu dengan peran ibu sekarang, sudah berbeda.

“Ibu dulukan, terdoktrin perannya, sebagai ngurus anak, ngurus rumah tangga. Sekarang kan tidak. Dan para suami harus memahami, namun perlu diingat peran ibu utamanya memang ngurus rumah tangga, cuma tidak menutup kemungkinan, dia meningkatkan kemampuan dan kontribusinya dalam pembangunan. Sehingga, tidak menghilangkan kodratnya sebagai seorang ibu,” ujarnya.

Melihat antuasisme dan wajah-wajah yang bahagia, dari para ibu-ibu dalam event tersebut, Pak Jun mengatakan, kalau dalam sambutannya, ia berpesan kepada bapak-bapak, harus memahami dan jangan dibelenggu ketika ibu-ibu ingin mengembangkan kreativitasnya untuk mengisi pembangunan. ‘’ Jadi, jangankan sekali setahun. Sebulanpun bisa, mereka diberi kesempatan, sehingga tidak melulu mereka berada dibelakang atau di rumah. Jadi, harus saling memahami dan mendukung,’’ imbuhnya. (Yusnani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *