Kini, IGD Puskesmas Sijuk 24 Jam, Resmi Dioperasikan, Petugas Medis Wajib Standby di Tempat

oleh -

Belitung, belitongbetuah.com – Kepala Dinas Kesehatan Belitung, drg. Dian Farida meminta maaf atas kejadian yang tak diinginkan, dimana Hani, warga Sijuk saat melahirkan di Puskesmas Sijuk, pada Rabu malam (17/5) tidak ada bidan yang membantunya, dikarenakan kala itu tidak ada yang jaga di sana.

Ia juga menyampaikan rasa belasungkawa dan turut berduka cita, meninggalnya bayi tersebut usai dilahirkan. Hal itu dikatakannya, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang di gelar di DPRD Belitung, Senin (22/5).

IMG-20240621-WA0024

Dian menjelaskan, sebenarnya sudah ada jadwal tugas untuk masing-masing bidan desa. Hanya saja, “ Dalam kondisi darurat, tidak ada IGD 24 jam. Petugas medis bersalin seperti bidan memang tidak selalu berada di tempat, tapi bisa dihubungi melalui telpon atau on call saat diperlukan,” katanya.

Selanjutnya terkait permasalahan genset yang tidak dinyalakan, dimana pada Rabu malam itu, Puskesmas Sijuk gelap, lantaran aliran listrik PLN mati. Sehingga Hani harus melahirkan dibawah penerangan lampu senter, dalam RDP tersebut, Dian katakan pihaknya sudah mengecek kondisi genset dan akan menyusun anggaran pemeliharaan yang akan disampaikan pada anggaran perubahan.

Dan pada kesempatan itu juga, Dian menyampaikan kini Instalasi Gawat Darurat (IGD) di Puskesmas Sijuk resmi dioperasikan 24 jam, dimulai hari ini, Senin (22/5).

Cuma saja, Ia mengaku untuk mengoperasionalkan IGD 24 jam, masih ada kesulitan pada SDM. Meski begitu, Dian menyakini , pihaknya harus mengikuti aturan guna meningkatkan pelayanan yang maksimal.

“Kalau IGD dioperasikan 24 jam, petugas kesehatan sepakat standby di puskesmas sesuai jadwal yang dibuat. Kalau sebelumnya masih on call, sekarang harus standby,” tututnya.

Tidak hanya itu, pihaknya juga akan mengoptimalkan panggilan darurat 119. Terlebih angka kematian ibu dan bayi serta angka kematian balita, menjadi prioritas dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM), sehingga diharapkan puskesmas dapat terus memberikan edukasi kepada pasien ibu hamil yang berisiko, agar dapat melahirkan di rumah sakit, bukan puskesmas.

Adapun edukasi kepada pasien ibu hamil yang berisiko sambungnya dengan memberi pemahaman, dan dilakukan melalui pendekatan kepada ibu hamil dan keluarga, “ Pemberian saran terus menerus diharapkan dapat membuat ibu melahirkan di rumah sakit agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan saat diperlukan,” ujarnya. (Arya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *