Peringati Hari Mangrove Sedunia, KPLPB Tanam Pohon di Eks Tambang

oleh

Belitung Timur, belitongbetuah.com – Kelompok Penggiat Lingkungan Pulau Belitong (KPLPB) lakukan penanaman pohon buah dan kayu dalam rangka Hari Mangrove Dunia tahun 2023, yang jatuh pada 26 Juli. Dilakukan bersama Bupati dan Wakil Bupati Belitung Timur di kawasan eks Tambang Tanjung Kuale, Desa Mengkubang Kecamatan Damar, Rabu (26/7).

Ketua Kelompok KPLPB, Tabliandi mengatakan, ada beberapa jenis pohon buah dan kayu yang ditanam. Diantaranya, Mangrove Rhizophora stylosa, Mangga, Alpukat dan pohon kayu Penaga.

Dijelaskan Tabli, sejak 3 tahun lalu, komunitasnya sudah menjalankan program yang dinamakan Replending Inisiatif. Dikembangkan secara swadaya, bekerjasama dengan Desa Mengkubang.

“Kami diberikan kesempatan untuk memanfaatkan (Kawasan) Pantai Tanjung Kuale. Kami lihat kawasan ini menyimpan potensi, jadi cocok melalukan kegiatan lingkungan, khususnya penanaman dan pemberdayaan masyarakat, “katanya.

Selama 3 tahun berjalan, tidak kurang dari 350 petani sudah menjadi mitra, salah satunya kelompok tani hutan di Desa Gantung. Di sana, selesai dilakukan penanaman, direncanakan membangun budidaya penggemukan kepiting.

Baca Juga: Dinas Tenaga Kerja, Koperasi dan UMKM Beltim Gelar Berbagai Kegiatan, Peringati Hari Koperasi

“Di Pulau Selandu (Desa Gantung) kepitingnya besar-besar sekali, tapi sustainability masih dipertanyakan, sedangkan itu salah satu potensi peluang kita,” bebernya.

Baginya, bukan hanya memberikan bibit tananaman, terus ditinggalkan, namun harus dibarengi dengan sustainablity.

“Jadi harus ada program kelanjutan setelah penanaman. Kalau nanti penanaman sudah selesai, kelompok atau masyarakat wajib kami dampingi,” tutur Tabli lagi.

Lanjutnya, KPLPB terbuka kepada siapa saja. Seperti komunitas anak-anak sekolah dan masyarakat, sesuai dengan konsep program yaitu pemberdayaan masyarakat. “ Bagaimana masyarakat, khususnya petani mandiri dan kelompok kehutanan sosial. Setelah mereka melakukan penanaman, ke depannya mereka bisa mendapatkan nilai ekonomi,” ujarnya.

Yang ada sambung Tabli selama ini kebanyakan dari kegiatan penanaman, banyak pohon yang tumbuh kemudian mati. Karena tidak dijaga dan dirawat. Hal ini, ujarnya mungkin kurangnya kesadaran atau tidak ada alasan bagi mereka untuk menjaga setelah penanaman.

“Nah, model kegiatan kami sekarang adalah kegiatan penanaman dan pemberdayaan pasca penanaman. Jadi setiap 6 bulan sekali, kita pantau, apakah tanaman itu dijaga dan dirawat. Karena nanti ada insentif sebagai reward atas penjagaan tanaman,” pungkasnya. (Arya)


Yuk, ikutin terus perkembangan informasi seputaran Belitong melalui media online belitongbetuah.com atau cukup meng-klik link Fanpage Facebook -nya Belitong Betuah yang selalu menyajikan berita terlengkap seputaran Belitong yang kami update…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *