RDP Food Court Belitung, Sempat Panas Gara-Gara Motif

oleh -

Belitung, belitong betuah.com — Istilah ‘motif’ muncul cukup sering dibicarakan di awal-awal RDP (Rapat Dengar Pendapat) yang diadakan Selasa (12/12) di ruang Bamus DPRD Belitung, mengenai proyek pembangunan Food Court Belitung yang terletak di Jln. Sriwijaya, depan galeri UMKM.

Semula munculnya istilah motif, karena Andi, Tim Teknis CV. Wahyu Lestari selaku kontraktor proyek tersebut mengatakan bila salah satu alasan keterlambatan pelaksanaan pembangunan food court Belitung, lantaran setiap ingin membeli barang harus seizin PPK terlebih dahulu. Seperti pembelian keramik dan cat. Untuk ukuran keramik, spek nya memang sudah tertera dalam RAB, tapi tidak dengan motifnya.

IMG-20240621-WA0024

Pembahasan motif ini jadi melebar dan serius, lebih disebabkan rasa ingin tahu atau informasi secara mendetil para anggota DPRD, yang terfokus dengan mengapa untuk membeli barang harus seizin PPK dulu.

Lantas, apa hubungannya antara motif dan terlambat. Apakah keramik itu memiliki motif khusus, seperti gambar Tarsius atau Bundaran Satam misalnya.

Kalau memang kontraktor itu menggunakan keramik dengan motif khusus, berarti memang harus dipesan. Soalnya, stock di pasaran pasti tidak ada. Jika demikian ceritanya, bisa dimaklumi bila kemungkinan terlambat, sebab harus menunggu pesanan.

Tapi kalau Cuma motif biasa atau umum, bisa dipastikan stock di pasaran banyak. Terkait motif, Maswandi, anggota Komisi I angkat bicara, ia bertanya apakah keramik itu mesan khusus. Yang dijawab tidak, oleh Andi.

‘’ Kalau Bapak mesan khusus ke perusahaan keramik, memang punya jadwal tunggu. Tapi kalau umum, banyak itu di pasaran, jadi tidak ada alasan. Saya pernah kerja di perusahaan keramik, saya juga pernah jadi Pemborong,’’ tukas Maswandi.

Namun bukan pengertian motif ini yang bikin suasana RDP panas. Dalam wikipedia, motif ini masuk dalam pengertian yang berkaitan dengan tekstil, berarti pengulangan suatu gambaran atau corak pada kain.

Di tengah bahasan mengenai motif keramik tadi, Prayitno Catur Nugroho (PCN) anggota Komisi II melempar pernyataan,’’ Tapi tidak ada motif yang lain kan Pak. Maksud kami harus mesan motif di Jakarta, misalnya ada motif yang lain. Nah, kita berharap tidak ada motif yang lain’’.

Ini motif yang bikin panas itu. Motif yang dalam wikipedia disebutkan berkaitan dengan psikologi, yang berarti alasan-alasan manusia yang melatar belakangi mereka untuk melakukan suatu kehendak.

Sontak saja, Fendi, Direktur CV. Wahyu Lestari, langsung berucap,’’ Jangan menghakimi’’. Tak terima karena telah dituduh menghakimi, PCN langsung berkata,’’ Sebentar Pak, sebentar. Yang saya katakan tadi, saya hanya bertanya, tidak menghakimi,’’ sebutnya.

‘’Kalian hanya mencari kesalahan ini,’’ tuding Fendi lagi.

Mendengar kalimat tersebut spontan Hendra Pramono (Een) Wakil Ketua DPRD Belitung, sekaligus pimpinan rapat , dengan nada tinggi mengatakan,’’ Pak Fendi, kami tidak mencari kesalahan, kami cuma menanyakan. Ada gak kami mencari kesalahan.”

“Sebab, ada penambahan biaya, kami ingin menanyakan. Kita menghargai Pak Fendi, kita kenal, kita dekat, jangan kayak gitu. Ini forum terhormat. Sabar dulu, itu maksud kami,’’ tandas Een.

Ditegaskan pula oleh PCN, fungsi DPRD salah satunya melakukan pengawasan. “ Di sini kita mencari solusi yang terbaik seperti apa, sehingga kita sama-sama tahu secara jelas permasalahannya,” ujarnya.

Een kembali melanjutkan, kiranya wajar bila pihaknya meminta kejelasan. Sebab yang mereka tahu nilai kontrak awalnya sebesar Rp 10,7 Miliar, tahu-tahu di tengah jalan, ada penambahan biaya, hingga menjadi Rp 11, 8 miliar. (Yusnani)


Yuk, ikutin terus perkembangan informasi seputaran Belitong melalui media online belitongbetuah.com atau cukup meng-klik link Fanpage Facebook -nya Belitong Betuah yang selalu menyajikan berita terlengkap seputaran Belitong yang kami update…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *